Tampilkan postingan dengan label Film Asia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film Asia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Agustus 2022

[Review] Emergency Declaration: Turbulensi Mengerikan Di Pesawat Korea Tujuan Hawaii!



#Description:
Title: Emergency Declaration (2022)
Casts: Song Kang-Ho, Lee Byun-Hun, Jeon Do-Yeon, Kim Nam-Gil, Im Si-Wan, Kim So-Jin, Park Hae-Joon, Jeon Soo-Ji, Kim Bo-Min, Ahn Jeong-Ho, Seol In-Ah, Jang Seo-Yeon
Director: Han Jae-Rim
Studio: Woo Ju Films, Showbox, CBI Pictures, Encore Films


#Synopsis:
Bandara Incheon di Korea Selatan terlihat sibuk dan padat seperti biasanya. Jae-Hyuk (Lee Byun-Hun) dan sang anak yaitu Soo-Min (Kim Bo-Min) sedang mengantri pesawat Sky Korea 501 tujuan Hawaii. Keduanya berencana untuk tinggal Honolulu demi kesembuhan Soo-Min yang terkena penyakit Eksim. Disaat sedang menunggu antrian menuju pesawat, Soo-Min tak sengaja melihat seorang pria yang memasukkan benda asing dan melukai kulit bagian ketiaknya di toilet. Melihat ada anak kecil yang memergokinya membuat pria yang bernama Jin-Seok (Im Si-Wan) panik dan berusaha untuk membungkam anak Soo-Min.


Saat Soo-Min sudah bersama dengan ayahnya, Jin-Seok terus berusaha mengawasi mereka berdua. Ia pun mengikuti keduanya dan segera membeli tiket pesawat yang sama dengan mereka. Pesawat dengan rute Seoul menuju Hawaii itu menampung 150 penumpang yang terdiri dari dua kelas yaitu kelas ekonomi dan bisnis. Di dalam manifest penumpang juga terdapat Ibu Hye-Yoon (Woo Mi-Hwa) yang merupakan istri dari sersan detektif kepolisian yaitu In-Ho (Song Kang-Ho). Sang istri dan rekannya itu pergi ke Hawaii untuk berliburan. Disaat Jae-Hyuk dan Soo-Min berjalan mencari kursi penumpang, keduanya terkejut melihat Jin-Seok yang berada satu pesawat dengan mereka. Jae-Hyuk berusaha untuk bersembunyi agar tidak terlihat olehnya.


In-Ho yang sedang bertugas di kantor polisi mendapat kabar tentang video viral ancaman terror dari seorang pria misterius yang akan dilakukan di salah satu pesawat yang ada di bandara Incheon. Rekan-rekan dari In-Ho merasa video tersebut hanyalah prank. Tapi In-Ho merasa jika ancaman tersebut bisa saja menjadi kenyataan karena pria yang ada dalam video itu dengan fasih menggunakan bahasa inggris. Dengan dibantu rekannya, mereka kemudian menelusuri apartemen yang diduga sebagai tempat tinggal dari pengunggah video tersebut. Setibanya disana, In-Ho dikejutkan dengan penemuan mayat terbungkus plastik dengan sekujur tubuhnya berwarna merah dan penuh darah. Setelah diselidiki, mayat tersebut terinveksi sebuah virus mematikan. In-Ho pun berkoordinasi dengan tim keamanan bandara untuk mencocokan penghuni apartemen dan penumpang yang ada di pesawat. Setelah ditelusuri lebih mendalam, orang yang ada di video tersebut sama dengan salah satu penumpang pesawat Sky Korea 501 tujuan Hawaii.



In-Ho semakin panik saat mengetahui sang istri ada dalam pesawat tersebut. Pihak kepolisian dan pemerintah Korea Selatan kemudian bekerja sama untuk segera mengamankan pria tersebut. Namun sayang, pesawat Sky Korea 501 sudah take-off dan terbang menuju Hawaii. Dalam perjalanan udara itu, Jin-Seok kemudian masuk ke dalam toilet dan mengeluarkan benda asing yang ia sembunyikan. Benda tersebut ternyata berisi serbuk virus berbahaya yang ia sebarkan di toilet. Aksi kejahatan yang dilakukan Jin-Seok itu perlahan memapari para penumpang. Gejala yang ditimbulkan berupa batuk-batuk, flu, demam tinggi, kulit memerah dan kemudian mengeluarkan darah dari beberapa bagian tubuh. Kondisi di dalam pesawat menjadi kacau dan seluruh penumpang panik. Para pramugari dan pilot kemudian berusaha menenangkan para penumpang.
Sementara itu, In-Ho beserta jajaran pemerintah Korea Selatan telah menemukan rekan jejak Jin-Seok yang merupakan lulusan farmasi dan pernah bekerja pada laboratorium farmasi BRICOM. Jin-Seok diduga mengambil sample virus dan dikembangkan sendiri olehnya. Selain itu, Jin-Seok juga berhasil memperpendek masa inkubasi virus tersebut sehingga jauh lebih cepat dalam membunuh makhluk hidup. Pihak keamanan bandara pun langsung menghubungi pilot pesawat Sky Korea 501 untuk segera mendarat darurat atau secepatnya kembali ke Korea Selatan.


Namun sayang, pihak Amerika Serikat menolak pesawat Sky Korea 501 untuk mendarat di wilayah mereka. Ditambah lagi kedua pilot pesawat sudah terpapar dan kondisinya terus menurun. Dengan kekuatan yang tersisa, mereka berusaha untuk kembali ke bandara Incheon. Akankah pesawat Sky Korea 501 bisa selamat meskipun bahaya virus mengerikan turut menjadi ancaman bagi Korea dan dunia?


#Review:
Juli tahun lalu, Korea Selatan mengirimkan film EMERGENCY DECLARATION (2022) ke Cannes International Film Festival 2021. Film yang bertabur aktor-aktris populer Korea ini digadang-gadang menjadi salah satu disaster movie terbaik yang pernah dibuat oleh Korea Selatan. Selang satu tahun dari tayang perdana di Cannes, akhirnya film EMERGENCY DECLARATION (2022) tayang juga di bioskop Korea pada awal Agustus lalu dan di Indonesia mulai 16 Agustus 2022.


Untuk segi cerita, premis tentang pesawat yang mengalami keadaan darurat saat sedang terbang mungkin sudah banyak kita temukan dalam film atau serial. Tapi ditangan sutradara Han Jae-Rin, kisah EMERGENCY DECLARATION (2022) dibuat lebih kompleks dan pastinya punya kekuatan drama khas Korea Selatan yang sangat menyentuh perasaan! Issue yang dihadirkan film ini turut membawa ancaman sebuah virus dan berpotensi bisa membahayakan suatu negara. Elemen tersebut seketika membuatku teringat akan kejadian awal Virus CoVid-19 yang melanda seluruh dunia sejak tahun 2020 silam. Film EMERGENCY DECLARATION (2022) memiliki dua ketegangan yang terjadi di udara dan juga di darat. Sensasi memacu adrenaline dan rasa cemas penonton dibangun secara perlahan. Kita diajak untuk melihat bagaimana cara kerja virus mengerikan itu disebar dalam sebuah pesawat. Moment chaos dan turbulensi yang terjadi di dalam pesawat juga dieksekusi dengan sangat brilian. Aku sampai dibuat tahan nafas dan ikutan pasrah saat pesawat Sky Korea 501 itu mengalami turbulensi hingga berputar-putar layaknya mesin cuci. Aku nobatkan kekacauan yang terjadi dalam film ini menjadi yang terbaik dalam film bertemakan disaster tentang kecelakaan pesawat. 


Selain ketegangan yang berhasil ditampilkan, film ini juga memiliki elemen drama yang mengaduk-aduk perasaan penonton. Rasa cemas, khawatir dan kesedihan seluruh penumpang dan keluarganya bisa terekspos dengan matang dan tidak lebay. Aku pastikan 40 menit terakhir saat "moment ikhlas dan pasrah" bakal menguras emosi sekaligus air mata pun bisa menetes dengan mudahnya. Yang sedikit mengganjal mungkin plot mengenai virusnya terasa dibuat buru-buru dan cepat menemukan solusi. Moment heroik yang dilakukan salah satu karakter semakin berasa kisah tersebut hanya terjadi dalam sebuah film saja.


Untuk jajaran pemain, Bapak 'Parasite' yang kembali tampil di film layar lebar, selalu berhasil menghidupkan karakternya. Namun highlight utama tentunya datang dari ensemble casts yang berada di dalam pesawat. Penampilan mereka berhasil membawa penonton yang duduk di kursi bioskop merasakan sensasi turbulensi mengerikan! Konflik emosional yang mereka tampilkan juga berhasil membuatku sesak dada.


Berasa jadi cucian gak sih para penumpang Sky Korea 501 ini?

Untuk segi visual, industri perfilman Korea Selatan semakin membuktikan mereka bisa terus maju dibandingkan negara-negara di Asia lainnya. Aku kira adegan turbulensinya itu efek CGI, ternyata dibuat sungguhan loh dengan menggunakan set kabin pesawat sungguhan dan bisa diputar hingga 360 derajat! Gokil banget! Departemen tata suara juga harus diberi tepuk tangan karena memberikan suara yang menggelegar sesuai porsi dan hampir setara dengan film TOP GUN: MAVERICK (2022) loh!
Overall, film EMERGENCY DECLARATION (2022) menurutku sukses menyajikan ketegangan insiden darurat di dalam pesawat yang tak hanya memacu adrenaline tapi memiliki elemen drama yang mengharukan! Keren!



[8.5/10Bintang]

Sabtu, 12 Februari 2022

[Review] Love And Leashes: Kisah Unik Dua Orang Fanatik BDSM Dalam Mewujudkan Fantasi Mereka!



#Description:
Title: Love and Leashes (2022)
Casts: Seohyun, Lee Jun-Young, Lee El, Seo Hyun-Woo, Kim Han-Na, An Seoung-Kyun, Lee Suk-Hyeong, Kim Bo-Ra, Baek Hyun-Joo
Director: Park Hyun-Jin
Studio: Seed Film, Netflix


#Synopsis:
Jung Ji-Hoo (Lee Jun-Young) baru saja dipindahkan ke Divisi Public Relations untuk menggantikan posisi karyawan sebelumnya yang sudah resign. Hari pertama kehadiran Jung Ji-Hoo membuat Jung Ji-Woo (Seohyun) tertarik. Namun rasa ketertarikan dari Ji-Woo tidak bisa diungkapkan begitu saja lantaran sikapnya yang sangat cuek, tegas, jarang tersenyum dan jutek kepada siapapun.
Suatu hari, Ji-Hoo dibuat panik karena paket pesanannya tidak ada di pos pengambilan barang. Si petugas security mengatakan jika paket itu sudah diambil oleh Jung Ji-Woo. Ia pun bergegas lari ke ruangannya untuk mengambil paket tersebut dari Ji-Woo. Namun sayang, paket yang berisi sebuah kalung BDSM bertuliskan Miho tersebut sudah terlanjur di unboxing oleh Ji-Woo. Ia pun langsung mengambil barang dan menyembunyikannya. Ji-Hoo mengaku jika kalung tersebut untuk anjing kesayangannya yang ada dirumah.


Setelah insiden itu, Ji-Hoo merasa sangat malu dan yakin jika Ji-Woo akan menganggapnya mesum karena memiliki preferensi seksual tak biasa dari orang kebanyakan. Kejadian tersebut ia curahkan melalui forum online para penggemar BDSM dan meminta saran terbaik untuk menghadapi Ji-Woo di esok hari.
Seiring berjalannya waktu, Ji-Hoo pun memutuskan untuk berkata jujur pada Ji-Woo. Ji-Hoo mengungkapkan jika dirinya mempunyai preferensi seksual BDSM sejak lama. Ia sangat menyukai peran sebagai Male Submission yang dimana Ji-Hoo akan sangat patuh kepada Female Dominance nya. Ji-Hoo pun sangat berharap Ji-Woo bisa menjadi Female Dominance bagi dirinya. Mendengar hal tersebut tak membuat Ji-Woo takut. Justru ia malah penasaran dan hasrat sebagai wanita tegasnya semakin keluar.


Setelah mencari berbagai jenis informasi tentang BDSM di internet, Ji-Woo pun sepakat untuk menjadi Female Dominance bagi Ji-Hoo. Keduanya pun membuat sebuah perjanjian kontrak untuk dua peran tersebut selama tiga bulan. Salah satu persyaratannya mereka sepakat untuk tidak melakukan hubungan seksual dan berfokus untuk memaksimalkan peran sebagai Dominance dan Submission saja.
Setelah sepakat dengan kontrak kerjasama, Ji-Hoo dan Ji-Woo pun perlahan mulai mengeksplor peran mereka sebagai Submission dan Dominance. Percobaan pertama, keduanya check-in di hotel. Ji-Woo memerintah Ji-Hoo untuk mengenakan kalung BDSM dan melakukan perannya sebagai Submission. Setelah itu, Ji-Hoo menjadi sangat patuh layaknya seperti seekor anjing dihadapan Ji-Woo. Fantasi seksual dari keduanya perlahan mulai tercapai. Ji-Woo nampak mulai bergairah melihat Ji-Hoo yang sangat patuh. Begitu juga dengan Ji-Hoo yang semakin liar dan menikmati permainan yang mereka lakukan.


Kesan pertama setelah memerankan Sub dan Dom itu membuat keduanya semakin tertantang untuk melakukannya lagi. Usai pulang kantor, Ji-Woo dan Ji-Hoo sering pergi bersama dan kembali memainkan permainan mereka. Bahkan mereka dengan berani melakukan permainan BDSM itu di ruang santai kantor pada malam hari.
Waktu terus berlalu, kemampuan Ji-Woo sebagai seorang Dominance semakin meningkat. Hal tersebut membuat Ji-Hoo senang karena akhirnya ia mendapatkan "tuan" yang benar-benar sesuai keinginannya. Namun sebuah dilema datang menghampiri keduanya. Ji-Woo merasa bingung dengan hubungan yang ia jalani dengan Ji-Hoo. Permainan Sub dan Dom yang sudah berjalan sangat jauh itu memang berjalan mulus dan tanpa mengarah ke kegiatan seks. Ji-Woo pun memberanikan diri untuk mengajak Ji-Hoo menjalin hubungan asmara.



Tapi sayang, Ji-Hoo belum sepenuhnya yakin untuk bisa membuka hati pada Ji-Woo. Ia masih mengalami trauma karena dianggap gila dan aneh oleh mantan kekasihnya gara-gara preferensi seksual Ji-Hoo sangatlah berbeda dari orang kebanyakan. Ji-Hoo khawatir jika Ji-Woo tidak bisa sepenuhnya menerima Ji-Hoo yang sesungguhnya.
Disaat perjanjian kontrak akan segera berakhir, intensitas pertemuan antara Ji-Hoo dan Ji-Woo pun semakin berkurang. Tak hanya itu saja, perilaku Sub dan Dom yang mereka lakukan tak sengaja terkuak dan ketahuan oleh semua orang yang ada di kantor. Hal tersebut membuat keduanya terancam untuk dipecat sebagai karyawan. Akankah hubungan Ji-Hoo dan Ji-Woo ikutan berakhir?


#Review:
Menjelang hari Valentine, platform streaming Netflix menghadirkan sebuah film drama romantis komedi produksi Korea Selatan berjudul LOVE AND LEASHES (2022). Film yang diadaptasi dari Webtoon bertajuk Moral Sense karya Gyeoul itu menghadirkan kisah cinta tak biasa! Dua karakter utama dalam film ini memiliki preferensi seksual tak lazim yaitu BDSM (Bondage, Dominance, Sadism, Masochism). Mendengar hal tersebut tentu langsung membuat para penonton penasaran sekaligus mengingatkan akan film trilogy FIFTY SHADES yang fenomenal dan super sensual itu.


Meskipun terdengar vulgar dan memiliki rating 18+ tahun, film LOVE AND LEASHES (2022) tidak sepenuhnya menampilkan adegan seksual BDSM loh! Film garapan Park Hyun-Jin ini memilih untuk fokus untuk development story dari karakter Ji-Woo dan Ji-Hoo dalam menghadapi preferensi seksual tak biasa mereka. Penonton diajak untuk melihat tentang bagaimana sudut pandang seorang penikmat BDSM dan harus bisa semaksimal mungkin untuk menutupinya karena perilaku tersebut masih sangat tabu di kalangan masyarakat. Padahal sejatinya, preferensi seksual seseorang itu selama tidak merugikan orang lain, tak perlu menjadi bahan ejekan atau jokes. Hal ini digambarkan dengan sangat baik oleh film ini. Tak hanya itu saja, sebab akibat dari preferensi seksual yang tak biasa itu juga bisa berdampak cukup besar pada kedua karakter utama film ini, sehingga kita sebagai penonton bisa ikut merasakan kegelisahan dari mereka.
Jika selama ini film bertema BDSM identik dengan hal-hal vulgar dan menampilkan adegan seksual yang eksplisit, film LOVE AND LEASHES (2022) justru lebih menitikberatkan pada sisi edukatif dari perilaku BDSM itu sendiri. Meskipun tidak semua orang bisa menikmati keseluruhan alur cerita film ini namun percayalah, film LOVE AND LEASHES (2022) memang berhasil menampilkan kisah BDSM dari sudut pandang yang baru.


Untuk jajaran pemain, Seohyun dan Lee Jun-Young menampilkan chemistry apik, lucu namun tetap memberikan gairah mereka yang cukup memuaskan! Aku ikutan deg-degan loh melihat kedekatan keduanya terutama disaat bermain sebagai Sub dan Dom, padahal mereka berdua tidak sevulgar Dakota Johnson dan Jamie Dornan! Hahaha. Peformance Lee Jun-Young saat "kesurupan" anjing di hotel benar-benar membuatku terkejut dan terkesan! Hahaha.
Yang sedikit disayangkan dari film LOVE AND LEASHES (2022) ini mungkin bisa memberikan visualisasi satu saja adegan BDSM yang sangat erotis agar tidak terlalu bosan dan menambahkan elemen scoring musik karena mayoritas di hampir semua adegan terasa hening gitu. Yuk nonton sama ayang di Netflix......



[7.5/10Bintang]

Rabu, 09 Februari 2022

[Review] Drive My Car: Kisah Seorang Suami Yang Berusaha Ikhlas Atas Kehilangan Istrinya



#Description:
Title: Drive My Car ドライブ・マイ・カー (2021)
Cast: Hidetoshi Nishijima, Toko Miura, Masaki Okada, Reika Kirishima, Park Yoo-Rim, Satoko Abe, Jin Dae-Yeon, Sonia Yuan
Director: Ryusuke Hamaguchi
Studio: C&I Entertainment, Culture Entertainment, Bitters End


#Synopsis:
Yusuke Kafuku (Hidetoshi Nishijima) adalah seorang aktor yang sudah dikenal cukup luas di panggung pementasan teater. Istrinya yaitu Oto Kafuku (Reika Kirishima) berprofesi sebagai penulis naskah berbagai program televisi dan teater. Keduanya dikenal sebagai pasangan yang saling melengkapi lantaran naskah karya Oto selalu berhasil menampilkan kualitas akting suaminya. Yusuke dan Oto sering mendapat apresiasi dan respon positif dari para penonton. Salah satunya datang dari aktor muda sekaligus murid sang istri yaitu Koji Takatsuki (Masaki Okada).



Keesokan harinya, Yusuke mendapat undangan untuk hadir ke acara konferensi press project terbarunya diluar kota. Ketika dalam perjalanan menuju ke bandara, tiba-tiba acara tersebut ditunda. Yusuke pun bergegas kembali pulang ke rumah. Namun disaat membuka pintu rumah, Yusuke terkejut melihat Oto sedang berhubungan seks dengan pria lain. Yusuke tidak histeris ataupun marah. Ia diam-diam mundur keluar dan pergi meninggalkan rumah. Setelah melihat kejadian itu, Yusuke menginap di hotel dan berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa disaat sang istri menelepon.


Suatu hari, Oto mengajak suaminya bertemu dan berbicara empat mata setelah pulang bekerja. Disaat Yusuke pulang ke rumah, ia terkejut melihat sang istri tergeletak di lantai dan dinyatakan meninggal dunia gara-gara pendarahan otak. Kematian Oto Kafuku itu membuat Yusuke memutuskan untuk batal menjadi pemeran utama dalam pementasan teater terbarunya nanti.
Dua tahun berlalu, Yusuke mendapat tawaran sebagai sutradara pementasan teater di Hiroshima. Ia diminta oleh panitia untuk mengadakan audisi mencari pemain baru untuk pementasan tersebut. Selama berada di Hiroshima, Yusuke memilih hotel yang jauh dari gedung teater dengan alasan ingin menikmati perjalanan dengan mobil kesayangannya. Namun sayang pihak panitia tidak mengizinkan Yusuke berkendara sendirian. Mereka menawarkan seorang supir pribadi bernama Misaki Watari (Toko Miura). Meskipun awalnya Yusuke menolak, namun karena persyaratan pihak penyelenggara, Yusuke pun bersedia menerima supir tersebut.



Serangkaian kegiatan banyak dilakukan oleh Yusuke. Salah satunya yaitu proses reading dan latihan pementasan teater bersama dengan para aktor dan aktris yang sudah dipilih melalui audisi. Selama tiga minggu lamanya Yusuke dan team teaternya berlatih akting agar bisa maksimal saat pementasan nanti. Dan selama itu juga, Yusuke selalu mengasah skill aktingnya sambil mendengar rekaman dialog mendiang istrinya didalam mobil.



Suatu malam, disaat Yusuke dan Misaki mengantarkan Koji pulang ke hotel, penggalan cerita karangan Oto yang belum berakhir diceritakan ulang dengan lengkap oleh Koji. Hal tersebut membuat Yusuke terdiam dan kembali teringat akan perselingkuhan yang dilakukan Oto. Setelah kejadian itu, Yusuke meminta Misaki untuk mengantarkan ke tempat yang sunyi. Ia ingin menenangkan hati dan pikiran karena sudah bertahun-tahun tidak bisa melupakan istrinya. Dalam perjalanan menemukan ketenangan itu,Yusuke dan Misaki akhirnya terbuka satu sama lain menceritakan semua masa mereka masing-masing.


#Review:
Tahun 2022 menjadi tahun yang cukup spesial bagi Jepang. Film terbaru dari sutradara Ryusuke Hamaguchi yang berjudul DRIVE MY CAR (2021) berhasil mendapatkan empat nominasi bergengsi di Academy Awards yang ke-94! Film ini sukses menyabet nominasi Best Picture, Best Director, Best Adapted Screenplay dan Best International Feature. Tak heran rasanya jika film ini bisa menjadi the next film PARASITE (2019) pada Oscars yang akan digelar pada Maret mendatang. Lantas apa yang menjadikan film DRIVE MY CAR (2021) ini terasa spesial hingga berhasil masuk nominasi Best Picture Piala Oscars tahun ini?


Untuk segi cerita, film yang diadaptasi dari cerpen karya Haruki Murakami ini mengajak penonton untuk berkenalan dengan seorang sutradara sekaligus aktor teater bernama Yusuke Kafuku. Dibalik skill aktingnya yang memukau serta disegani banyak orang ternyata Yusuke menyimpan permasalahan hidup dan rumah tangga yang cukup pelik. Setelah kematian anak pertamanya pada awal pernikahan, kehidupan Yusuke dan sang istri terasa semakin hambar setiap harinya. Namun ada hal menarik dari pasangan aktor dan penulis naskah ini disaat mereka mencari ide kreatif. Yusuke dan Oto saling bersahutan membuat sebuah cerita yang apik sambil berhubungan seks. Yang tak kalah unik datang dari opening credits. Sang sutradara menampilkan jajaran pemain dan tim produksi film pada saat film sudah berjalan kurang lebih satu jam.
Plot cerita semakin menarik disaat karakter Yusuke berada di Hiroshima. Sang sutradara menampilkan kegiatan sehari-hari Yusuke dan juga proses latihan akting sebelum pementasan teater bersama dengan para aktor pilihannya. Selama proses reading dan latihan tersebut, penonton serasa ikut belajar akting bersama dengan Yusuke. Meskipun tempo cerita berjalan cukup lambat, tapi hal tersebut tak membuatku bosan. Setiap dialog para pemain hingga aksi tek-tokan Yusuke dengan rekaman suara istrinya di dalam mobil selalu menarik perhatianku. Semua pertanyaan tentang apa yang sesungguhnya dirasakan oleh para karakter akhirnya terkuak dengan sangat sempurna. Perkembangan karakter dari Yusuke, Oto, Misake hingga Koji bisa membuka perspektif penonton tentang makna mencintai, kehilangan hingga penyesalan yang selalu datang pada saat semuanya telah terjadi.


Untuk jajaran pemain, aktor senior Hidetoshi Nishijima sukses membawakan peran Yusuke yang cenderung kaku, dingin namun mempunyai pergolakan batin yang luar biasa. Chemistry yang ia bangun bersama Toko Miura terutama pada third act film ini sungguh menyesakkan dada. Keterbukaan keduanya akan kesalahan yang "tidak sengaja" mereka lakukan di masa lalu. Penampilan Masaki Okada yang muncul diantara Yusuke, Oto dan Misaki pun semakin menambah kompleks cerita rumah tangga Yusuke dan Oto. Salah satu adegan Masaki yang paling membuatku terpukau disaat karakter Koji melanjutkan cerita karangan Oto yang tidak pernah diketahui Yusuke. Gila..


Untuk segi visual, film DRIVE MY CAR (2021) ini sungguh memanjakan mata. Tone kalem dengan warna-warna lembut khas film-film drama Jepang terasa begitu indah disepanjang film. Suasana Jepang dan Hiroshima juga tergambar dengan sangat cantik. Mobil Saab 900 yang berwarna merah terasa sangat menonjol sekaligus mencuri perhatian ditengah ciamiknya visual dan kerennya para pemain dalam menunjukan akting mereka. Overall, film DRIVE MY CAR (2021) memang sangat layak masuk nominasi Best Picture Oscars tahun ini. Kualitas cerita dan penunjangnya terlalu memuaskan!



[9/10Bintang]